Kamis, 11 Juni 2009

MERAH MARET


MERAH MARET

/1/

14 Maret
kota tua
Maret menjadi merah oleh sebuah janji. Kita selipkan sebuah nama ganda kita dibalik jendela merah yang tua, dan akan semakin menua di tahun-tahun mendatang. 
Persetujuan antara dua pihak.
Waktu tak peduli apa kata yang terucap, terbuang, terlontar dari suara yang tak samar, dari suara yang tak sekedar, dari pernyataan yang harus ditepati.
Kian bergulir hilang kesebuah entah, jarak menjadi garis yang tertulis, di situ ada janji, janji yang terselip nama bahwa ada pertemuan di kota tua itu.


/2/

September
Takdir benar menguji perkataan kita, tak sekedar asal lontar, dua, tiga, lima, sepuluhpun apa benar kita tahu? apa benar kita akan tepat?
Aku, kau. Pergi hingga berjarak, tak ada isyarat, tak ada sebilah katapun terucap, tak ada pertemuan lagi selain janji itu, itu pun jika kita ingat dan datang, jika kita menepatinya.
Tahu kah kau
“Ada yang menambat memar disebuah hati ku, yaitu janji. Tahu apa kau tentang janji!”



/3/

Dalam tahun-tahun mendatang
“anomaly, semalam aku memimpikanmu, aku membelai rambutmu, kau berasumsi lagi tentang janji”

aku dalam anomaly mimpi dari janji kita, kita berdiskusi tentang itu, aku membelai rambutmu, menariknya dari akar kepalamu dengan kasar. Membisikanmu sekali lagi “tahu apa kau tentang janji! Janji yang kita buat!” lalu kau berasumsi lagi tentang janji.



/4/

" Ini tahun terakhir tentang janji, nanti ditanggal kelahiranmu, di bulan kelahiran kata kita, akankah kita bersua? "

Janji mulai menggerogoti hari, bulan demi bulan, sampai ia menelan kita, memakan isi perut kita, menagih memori di otak kita yang semakin samar oleh bayang kenangan. “ingat kah kita pernah berkata, kita tak peduli dengan masa, dengan apa yang akan terjadi nanti, yang kita tahu hanya janji”

Waktu semakin menuntun kita ke kota itu, memberi arah jalan “tinggal berapa hari atau bulan lagi”. Itu membuat aku semakin terkurung seperti di dalam jam pasir, yang pelan-pelan menghisapku, “aku tak peduli apa kau memikirkanya! Atau apa memang kau tak peduli memikirkanya! Ah sudahlah aku hanya setia pada janji,bukan kepadamu!”



/5/

Maret 2009,

“maret datang seperti pulang, membawa kepertemuan di kota tua, janji bukan asal serapah, aku datang membawa darah!”

Aku datang menaiki kereta, di atas rel berkarat, orang-orang sesak di gerbong. Kacanya yang pecah, lantai banyak sampah, sumpah serapah orang yang marah. “kemana mereka akan pergi? Kemana angin akan membawanya bersama janji? Utara atau selatan?”
Aku jelajahi gedung-gedung tua, bau gudang bekas kolonial. Yang dagingnya terkelupas masa. Yang dindingnya bobrok semakin menua, hawa-hawa lampau semilir menyihir, menggores bola mataku berair.
Aku lewati sepanjang kali mati, yang dulunya tempat pembuangan mayat. Aku mencari potongan tubuhmu, setidaknya mungkin bayang. Aku gali memori, aku keruk otak ku berusaha menemukanmu, aku tanya pada waktu “apakah kau melihat seseorang datang membawa janji disini?” namun tahu kah kau waktu memukul aku dengan tanya, membalikan tanya, “ Janji? Seperti apakah bentuknya?”.

“ di mana janji yang kau janjikan? Aku sudah datang memakai baju hitam, seperti ritual kematian, namun kau tak datang bersama kenangan”

Tak sehelai rambutmu yang bau amis aku cium dikota tua ini, aku sudah berlari ke pelosok bawah menara, di bawah jendela, sampai tececer darah yang aku bawakan untukmu, agar kau dapat meminumnya dengan hati yang lega, agar aku dapat tenang terjaga, sampai terobek baju hitam yang aku kenakan, sampai wajahku bertaburan, isi otak ku atas kenangan.
Namun tak ada rupa dari sebagian baju hitam yang sepasang, kota ini pun semakin tenggelam, malam akan menelannya dengan mentah-mentah, aku pun akan pulang dengan pasrah. Membawa pulang batu, dikepal, lalu aku akan merebusnya dengan kenangan yang bekas, yang terkelupas, yang tak terbalas.
Aku pergi aku pulang kerumah, dengan melihat jendela merah itu dari belakang yang aku punggungi, aku terus berjalan. Jendela merah itu menangis sesugukan, mengeluarkan nanah, lalu seketika tertawa terbahak-bahak, dengan terus melihat jendela merah itu dari belakang, ia terus tertawa tak berarah, sambil menunjuk kearahku seperti mengejar, samar-samar aku mendengar dia berucap “ Tak ada janji yang terucap dibawah jendela ini, dikota ini, mungkin kau hanya bermimpi.
Ternyata janji menempatkan kita di tempat yang berbeda, kau pun lupa tanggal, saat janji kita akan dipenggal.
Tapi aku cukup puas dengan aku tiba tepat waktu, pulang membawa batu, walau sampai kini aku tidak mengerti arti sumpah, datang membawa darah.
Tahu apa aku tentang janji, tahu apa kau tentang janji, tahu apa kita tentang janji.
Aku hanya ingin berisyarat, menguak, meneguhkan sebuah perkataan yang seharusnya terucap.

" Aku hanya ingin janji dari separuh organ tubuhmu, hanya itu. "




Angga. Wijaya
2008-2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar