Sabtu, 13 Juni 2009

SERIT KAYU

SERIT KAYU

Sudah lampau pisah pulau atas rantau
di seberang selat aku ingat suatu tempat
teringat rumah masihkah megah oleh kayu-kayu yang disangga
Ranah pada tanah yang terbelah di antara lembah

Di atas batu kau menunggu
Di jendela rumah panggung kau termanggu

Bertahun-tahun aku merindu
Musang kopi, Batu kali, Kue sagu, Pantun Melayu, Serit kayu
sampai kau hanya meninggalkan aku dengan makam mu
selama kau menjejak sembilu di atas kepergiaanku


sempat kau berucap saat aku kembali di ujung serat

" Aku tak punya air dirumah ini,
lantas tak dapat menyuguhkan dahaga mu jadi rindu
tahanlah lapar mu yang ku jamu
aku tak bisa menghidangkan apa yang kau mau saat bertamu

(kenapa kau tinggalkan aku, kenapa kau hanya bertamu)

di situ, bukan di sini kau pantas bertamu
di situ, bukan di sini yang hanya dapat menjamu mu dengan bisu "


Aku membalas mengucap dengan terbata mengecap

" Apakah kau ragu aku melukis rupamu di atas cermin berbingkai perunggu
sebelum sempat aku terbangun dari perkawinan angan yang ku ramu,
Apakah kau tahu aku dapat memahat patung batu berwujud kepalamu
sebelum aku tertidur di teluk mimpiku, tepat di ujung karang batu
kau kutuk aku jadi batu "

namun kau hanya menjawab tanpa isyarat

" Di atas serit kayu
aku memangku mu
menyisir rambut mu jadi batu"



2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar